"Ahlan wa sahlan Ya syahru Ramadhan"
Alhamdulillah, kurang lebih empat belas hari lagi jika diberikan umur panjang aku masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh keberkahan. Bulan Ramadhan, bulan yang kedatangannya selalu ditunggu-tunggu oleh muslim dan muslimah di seluruh penjuru dunia.
Insya Allah, ini adalah Ramadhan yang ke-19 yang keluarga kami lewati tanpa hadirnya seorang ayah di tengah-tengah kami. Mungkin itu sudah biasa, namun bagaimana pun juga tentu aku ingin sekali melewatkan indahnya Ramadhan dan Idul fitri bersama keluarga lengkapku. Bersama Ayah, Ibu, dan kedua kakakku. Ya, aku tahu itu semua hanyalah sebuah mimpi. Pasalnya sembilan belas tahun yang lalu Ayah telah pergi ke Rahmatullah mendahuli kami , tepat ketika umurku masih sangat muda. Di usiaku yang ketiga tahun, Ayah meninggalkanku juga keluarga kami.
Bukan hanya tanpa Seorang Ayah, ini adalah Ramadhan yang ketiga kalinya tanpa Abang. Kakak lelakiku yang pergi menyusul ayah dua tahun silam. Sejujurnya aku belum terbiasa dengan kehilangan Abang. Namun, apadaya ini semua sudah menjadi takdir Ilahi Rabbi yang harusnya aku terima dengan ikhlas.
Masih tergambar jelas dalam memori otakku, bagaimana seyum, canda dan tawa Abang. Bagaimana nasehat-nasehat beliau yang selalu memenuhi telingaku. Aku rindu, amat sangat merindukanmu, Bang. Terlebih ketika Ramadhan tiba, tiap hari aku harus extra tenaga untuk membangunkanmu sahur karena Abang memang sangat susah dibangunkan ketika sudah tidur. Belum lagi kebersamaan kami ketika berbuka puasa, setiap hari aku selalu berbuka puasa bersama Ibu, dan Abang sedangkan Kakak perempuanku sudah tidak tinggal satu atap lagi karena memang sudah menikah dan tinggal bersama suami dan anaknya.
Abang, rasanya baru kemarin kita melewatkan Ramadhan bersama, tapi kini kebersamaan itu hanyalah tinggal kenangan. Meskipun ragamu tak hadir menemani kebersamaan kami lagi, namun rautmu akan selalu ada dalam hati kami. Dahulu, ketika kau masih hadir di tengah-tengah kami. kaulah yang paling rajin tadarus Al-qur'an di rumah, sehingga memotivasiku untuk terus tadarus sepertimu. Terima kasih bang, semoga walau tanpamu disini yang selalu mengingatkanku untuk melakukan kebaikan. Semoga aku bisa senantiasa melakukan hal-hal positif dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin
Abang, rasanya baru kemarin kita melewatkan Ramadhan bersama, tapi kini kebersamaan itu hanyalah tinggal kenangan. Meskipun ragamu tak hadir menemani kebersamaan kami lagi, namun rautmu akan selalu ada dalam hati kami. Dahulu, ketika kau masih hadir di tengah-tengah kami. kaulah yang paling rajin tadarus Al-qur'an di rumah, sehingga memotivasiku untuk terus tadarus sepertimu. Terima kasih bang, semoga walau tanpamu disini yang selalu mengingatkanku untuk melakukan kebaikan. Semoga aku bisa senantiasa melakukan hal-hal positif dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin
Jakarta, 16 Sya'ban 1435 H
Titie Ibnatu Mursid




0 komentar:
Posting Komentar