RSS

Selasa, 17 Juni 2014

Ups.... :D


Aku tahu, aku sudah tidak semuda dulu lagi. Hampir seperempat abad, apa yang akan terjadi pada hidupku. Percaya nggak percaya, memang ada yang berbeda. Ada yang terasa perlu ditemukan. Entahlah apa. Mungkin jodoh. 
ups.... :D



Selamet deh buat kamu yang sudah memiliki seseorang. Tinggal bagaimana mempertahankannya sampai akhir. :)




Sabtu, 14 Juni 2014

"Ahlan wa sahlan Ya syahru Ramadhan"

 "Ahlan wa sahlan Ya syahru Ramadhan"


 Alhamdulillah, kurang lebih empat belas hari lagi jika diberikan umur panjang aku masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh keberkahan. Bulan Ramadhan, bulan yang kedatangannya selalu ditunggu-tunggu oleh muslim dan muslimah di seluruh penjuru dunia.

Insya Allah, ini adalah Ramadhan yang ke-19 yang keluarga kami lewati tanpa hadirnya seorang ayah di tengah-tengah kami. Mungkin itu sudah biasa, namun bagaimana pun juga tentu aku ingin sekali melewatkan indahnya Ramadhan dan Idul fitri bersama keluarga lengkapku. Bersama Ayah, Ibu, dan kedua kakakku. Ya, aku tahu itu semua hanyalah sebuah mimpi. Pasalnya sembilan belas tahun yang lalu Ayah telah pergi ke Rahmatullah mendahuli kami , tepat ketika umurku masih sangat muda. Di usiaku yang ketiga tahun, Ayah meninggalkanku juga keluarga kami.
 
Bukan hanya tanpa Seorang Ayah, ini adalah Ramadhan yang ketiga kalinya tanpa Abang. Kakak lelakiku yang pergi menyusul ayah dua tahun silam. Sejujurnya aku belum terbiasa dengan kehilangan Abang. Namun, apadaya ini semua sudah menjadi takdir Ilahi Rabbi yang harusnya aku terima dengan ikhlas. 
Masih tergambar jelas dalam memori otakku, bagaimana seyum, canda dan tawa Abang. Bagaimana nasehat-nasehat beliau yang selalu memenuhi telingaku. Aku rindu, amat sangat merindukanmu, Bang. Terlebih ketika Ramadhan tiba, tiap hari aku harus extra tenaga untuk membangunkanmu sahur karena Abang memang sangat susah dibangunkan ketika sudah tidur. Belum lagi kebersamaan kami ketika berbuka puasa, setiap hari aku selalu berbuka puasa bersama Ibu, dan Abang sedangkan Kakak perempuanku sudah tidak tinggal satu atap lagi karena memang sudah menikah dan tinggal bersama suami dan anaknya.
Abang, rasanya baru kemarin kita melewatkan Ramadhan bersama, tapi kini kebersamaan itu hanyalah tinggal kenangan. Meskipun ragamu tak hadir menemani kebersamaan kami lagi, namun rautmu akan selalu ada dalam hati kami. Dahulu, ketika kau masih hadir di tengah-tengah kami. kaulah yang paling rajin tadarus Al-qur'an di rumah, sehingga memotivasiku untuk terus tadarus sepertimu. Terima kasih bang, semoga walau tanpamu disini yang selalu mengingatkanku untuk melakukan kebaikan. Semoga aku bisa senantiasa melakukan hal-hal positif dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin



Jakarta, 16 Sya'ban 1435 H

Titie Ibnatu Mursid




Jumat, 13 Juni 2014

Kado Istimewa^_^ Cerpen pertama zaman SMA, heheee

Dulu waktu zaman SMA, sempet belajar bikin cerpen  nih hasilnya... heheee

yuk... di intip... :p

Kado Istimewa^_^

Malam ini kulihat mama sedang asyik ngobrol dengan kak Mira. Entah sedang membicarakan apa. Yang jelas, aku tak ingin menggangunya dan aku pun segera memasuki kamarku. Sebelum tidur, sempat terpikir olehku .. hadiah apa yg akan kuterima besok??? . Hmmm… Mungkin tas baru, boneka, buku diary atau…. mama hanya membelikanku sebuah kue tar sekedar untuk merayakan hari ulang tahunku kecil-kecilan. Ahh… Cepat-cepat aku buang pikiran itu jauh-jauh. Untuk apa aku mengharapkan hadiah, lagi pula siapa juga yang ingin memberinya. Sudah sepantasnyalah aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, karena sampai detik ini juga aku masih di berikan kesempatan untuk menghirup atmosfer bumi.
Malam semakin larut juga, Aku terlelap dalam tidurku…
“Vina, Selamat ulang tahun ya….. “ ucap mama sambil mencium keningku
“Iya Vin, Selamat ulang tahun yaa….. semoga tambah cantik, makin pintar dan panjang umur. Eits…. satu lagi biar cepet dapat pacar” lanjut Kak Mira
“Makasih ya mah,, kak mira… Vina seneng deh, Mama sama Kak Mira masih inget hari ulang tahunku” jawabku dengan senyum mengembang
“Vin…. emang kamu gak minta kado???” tanya mama
“Enggak lah ma, Do’a dari mama dan kak mira aja.. itu udah cukup buat Vina” jawabku
“Udah ah mah.. Vina berangkat sekolah dulu ya” sambil meraih tangan mama dan menciumnya
“Hati-hati ya sayang” ucap mama dengan senyuman terindahnya
“iya mah.. Assalamualaikum” ucapku
“Walaikum salam” jawab mama
Saat ini kondisi keuangan mama sangat lah memprihatinkan, semenjak tetangga baruku mulai ikut2an bisnis kue kering… bisnis mama yang sudah berjalan kurang lebih 10 tahunan , kini mulai sepi,,,
Melihat kondisi seperti ini , tak mungkin aku meminta pada mama untuk membelikan ku sebuah kado…
Di sekolah….
“Doooorrrr….” sambil menepuk pundakku dari belakang
“Eh… Elo San.. gue kira siapa??” aku tersentak kaget
“Ya gue lahh… sahabat lo yang paling cute.. hehehe…emangya lo kira gue setan.. Eh, Selamat Ulang Tahun ya Vin….” Susan terus nyerocos….
“Sorry nihh, gue gak bisa ngasih lo apa-apa !!” Lanjutnya
“Makasih ya San… “ aku menjawab dengan senyum.
Dugaanku benar, di hari ulang tahunku yang ke- 16 ini memang tak ada yang memberiku hadiah. Kukira mama akan memberikan ku tas baru, ternyata tidak. Padahal tasku sudah lama tidak di ganti dan aku hanya punya satu. Kalau melihat teman-temanku , mungkin aku iri pada mereka.
Kak Mira. Kenapa dia tidak mangajakku jalan-jalan lagi seperti tahun lalu, Mungkin… kebutuhan Kak Mira sangat banyak, sehingga gajinya tidak cukup untuk memberiku sebuah hadiah ulang tahun , atau sekedar traktir aku makan bakso.
Sebagai sahabat, kenapa Susan tidak memberi hadiah untukku. Padahal bulan lalu , saat dia ulang tahun aku memberinya sebuah bingkai sebagai hadiah ulang tahun untuknya.
Seandainya papa masih ada, mungkin aku bisa sedikit mengadu padanya dan minta di hadiahkan tas baru pada hari ulang tahunku. Mungkin Papa memang masih ada. Tapi, setiap kali aku bertanya pada mama. Mama selalu bilang bahwa Papa telah tiada, namun jika aku balik bertanya padanya papa dimakamkan di mana???. Mama selalu diam seribu bahasa dan tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Aku bingung dengan sikap mama.Sejak kecil aku memang tidak tahu seperti apa rupa papa. Kalau saja foto papa tidak diletakkan di ruang tamu, mungkin aku tidak akan tahu bagaimana sosok papa ku sendiri.
Sepulang dari sekolah, Susan mengajakku ke toko buku. Tapi aku enggan ikut bersamanya. Susan pun mengiyakan aku pulang kerumah.
“Vin,, anterin gue ke toko buku yukk !!” ajak Susan
“Sorry San, gue gak bisa” jawabku singkat
“Emang lo mau kemana?” tanya Susan
“Enggak, gue Cuma pengen di rumah aja” jawabku
“Oh,,, ya udah, gue duluan ya…” pamit Susan
“iya..” sambungku
Terpaksa aku berbohong pada Susan. Padahal aku sendiri tidak tahu ingin kemana.Untuk apa aku pulang ke rumah, mama tidak akan memberiku tas baru. Padahal aku ingin sekali memilikinya.
Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kakiku menuju toko tas yang berada bersebrangan dengan sekolahku. Aku memang tidak berniat untuk membeli tas, karena aku tidak punya uang, tapi apa salahnya kalau hanya melihat-lihat saja.
Di jalan raya , mobil dan motor melintas dengan kecepatan cukup tinggi. Karena tidak ada trotoar dan jembatan penyebrangan, aku pun bingung untuk menyebrang jalan. Tiba-tiba dari jauh terdengar suara seorang laki-laki paruh baya.
“Awasss…… ada mobil”
Saat kubuka mata, pandanganku tertuju pada sebuah lampu. Namun lampu itu berbeda dengan lampu di kamarku.
“Vina, kamu sudah sadar nak?” suara mama terdengar olehku
“Mama… aku berada dimana , mah??” tanyaku heran
“Kamu berada di rumah sakit, sayang” mama mencoba menjelaskan.
Aku pun terdiam. Rumah sakit??? Sedang apa aku disini?? Apa yang terjadi denganku ??
Ohh .. mungkin aku baru saja kecelakaan. Ya, mama bilang aku tertabrak oleh sebuah mobil. Si pengendara mobil lah yang membawaku kesini. Bukan Cuma itu, mama juga bilang dia membawa sebuah kado. Katanya hadiah untukku. Hadiah apa? Mungkin hadiah Ulang Tahunku, tapi…. siapa dia?? Mana mungkin dia tau kalau hari ini adalah hari Ulang tahunku ..
Suara mama terdengar lagi.
“Vina, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dia yang menabrakmu tadi saat kau hendak menyebramg”
“Siapa ma??” tanya ku penasaran.
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu , entah siapa. Yang jelas aku kenal sekali langkahnya kakinya. Seolah aku sangat dekat dengannya..
“Maaf, boleh saya masuk?”
“Silahkan masuk Mas” jawab mama
Mama memanggil laki-laki itu dengan sebutan “Mas”. Setahuku , mama pernah bercerita padaku, mama memanggil sebutan itu hanya untuk papa. Mungkinkah itu papa??? Tapi…. mama bilang papa telah tiada. Sosok laki-laki itu semakin mendekatiku dan semakin jelas aku melihat wajahnya. Namun… wajah itu benar-benar tak asing lagi untukku. Ya… dia benar-benar mirip dengan sosok laki-laki yang selama ini kurindukan. Hanya saja dia sedikit lebih hitam dan rambut dikepalanya lebih banyak yang putih. Mungkinkah dia papa. Mungkin dia saudara dari papa. Tapi, bukannya papa itu anak tunggal????
“Selamat Ulang Tahun , Vina sayang….” Kata laki-laki itu
“Terima kasih” jawabku dengan tidak percaya
Dari mana dia tahu kalau hari ini aku berUlang Tahun ??? tanya ku dalam hati.
“Vina, maafin mama ya, Seama ini mama sudah membohongi kamu” kata mama sambil mengusap keningku
Aku semakin tidak mengerti.
“Ma, sebenarnya dia siapa??” tanya ku ingin tahu
Belum sempat mama menjawab, laki-laki itu berkata
“Vina , maafin papa . Papa mohon kamu mau memaafkan papa”
“Dan tolong buka kado itu, itu hadiah ulang tahun dari papa” lanjut laki-laki itu
“Papa?? Benarkah kau papaku? Bukannya papa telah meninggal? Ujarku tak percaya
“Enggak sayang, dia benar-benar papamu”. Kata mama mencoba menjelaskan
Mendengar keterangan mama , lemas badanku segera hilang, aku pun memeluk papa. Keluarlah air mataku dari bendunganya.
Segera ku ambil sebuah kado dari papa, lalu kubuka, ternyata isinya sebuah tas berwarna biru. Wara biru adalah warna kesukaanku. Betapa senangnya hatiku.
“Vina, itukan yang kamu inginkan?” tanya mama
“iya mah” jawabku singkat
“Walau hanya sebuah tas, papa minta kamu jadikan tas itu sebagai kado istimewa untukmu” ujar papa berharap
“ Enggak pa. Tas ini bukanlah kado istimewa. Tapi kehadiran Papa di hari Ulang Tahunku lah yang merupakan sebuah kado istimewa bagiku” jawabku
Mama dan Papa tersenyum mendengar perkataanku. Aku pun tersenyum…
Akhirnya, aku bertemu dengan papa,,, laki-laki yang benar-benar sangat aku rindukan… kini aku punya papa…. selalu ku panjatkan rasa syukurku kepada-Nya . Terima kasih ya Allah Engkau telah mempertemukan kami, kini lengkaplah keluarga kecilku…..
Papa meninggalkan mama, kak mira, dan aku… sejak 13 tahun yang lalu, ketika aku masih berumur 3 tahun, papa meninggalkan kami begitu saja, bahkan mama pun tak tahu apa alasan papa meninggalkan kami, mungkin itu lah alasan mama, mengapa dia tak pernah mau menjawab pertanyaanku saat aku menanyakan keberadaan papa..
kini papa telah kembali,,, aku sama sekali tak perduli dengan alasan mengapa papa meninggalkan kami…. yang terpenting sekarang, papa telah kembali dan berkumpul dengan kami…

“Terima kasih Ya Allah.. telah memberikan kado istimewa yang tak pernah ku duga, tepat di hari ulang tahunku ini…. “


By : Tie”,)
Mei ‘07

Selasa, 10 Juni 2014

Surat untuk Ayah di Syurga :')

Ayah, apa kabarmu disana?


Ibu bilang kau sudah bahagia di alam sana. Semoga memang benar adanya :). AYah, jujur saja aku sangat merindukanmu yah, kapan yah aku bisa berjumpa denganmu lagi. oh ya, terimakasih ya yah, semalam sudah menyempatkan waktumu mampir ke dalam mimpiku. Tapi kenapa hanya sebentar yah, padahal aku masih sangat merindukanmu yah.. Lain kali datang lagi ke mimpiku ya yah, tapi janji harus lebih lama, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu yah..

Yah, kini aku sudah besar. Dan aku ingin menemukan lelaki seperti ayah untuk melindungiku, menjagaku juga menjadi imam bagiku juga anak-anakku kelak. apakah aku bisa menemukan lelaki sepertimu yah, lelaki yang tangguh, pemberani, dan penyayang. Ayah, kau adalah lelaki terbaik yang aku kenal sepanjang masa..

Sebagian teman sebayaku kini sudah memiliki pasangan, bahkan banyak juga yang telah memiliki buah hati. Apa itu tandanya aku juga harus mengakhiri masa lajangku???
Ya, mengingat usiaku kini sudah memasuki kepala dua. sering kali terbesit di pikiranku. "kapan aku mengakhiri masa lajangku?"
Tapi, segala sesuatunya aku kembalikan lagi kepada-Nya. Karena aku yakin pendampingku kelak akan datang pada saat yang tepat... 

"hey.. ayah.. lihat, anakmu ini bijak sekali kata-katanya.. hehehe"  

Yah, sekian dulu ya surat dariku. lain waktu aku sambung lagi.. aku tunggu kedatangan ayah dalam mimpiku yah....



Salam Rindu buat Ayah Tercinta,



Si Bontot :')

^_Titie Ibnatu Mursid_^