Setahun berlalu…
Masih teringat jelas dalam benakku saat dimana kau lantunkan ayat2 suci disela-sela kesakitan yang kau rasakan dalam perjalanan kita ke rumah sakit.. Namun Allah berkehendak lain. Tepat dipangkuanku, anak bungsumu. Kau hembuskan nafas terakhirmu. Seolah tak percaya, aku menangis sejadi-jadinya. Kupeluk erat tubuhmu namun semua dingin terasa, tak ada lagi hembusan nafas yg keluar dari kedua rongga hidungmu. Sambil menahan isak tangis kucoba untuk tetap kuat, mencoba untuk ikhlas melepasmu menghadap Sang Khalik..
Saat ini aku masih sendiri bu, tanpa mu tanpa ayah dan tanpa abang. dan sampai detik ini pula aku belum menemukan sosok imam yang kuidamkan yang sempat keceritakan padamu dahulu. Nampaknya Tuhan masih merahasiakan keberadaanya. Bu, seadainya kau masih ada mungkin kaulah satu-satunya yang tiada hentinya terus berdoa agar aku cepat menemukan imamku.
Bu, maafkan anak bungsumu ini bila semasa hidupmu aku sering menyusahkan, membuat jengkel dan belum sempat membahagiakannmu.
Bu, aku masih berusaha untuk lebih ikhlas lagi melepas kepergiannmu. setahun berlalu kulalui hari-hari tanpa hadirmu lagi. Berharap aku bisa lebih tegar, lebih sabar dan lebih mandiri lagi dalam mengarungi kehidupan seorang diri. dan semoga Tuhan cepat mempertemukan dengan sosok imam pelengkap separuh agamaaku kelak.
Bu, hari ini genap setahun sudah kepergianmu. Rindu bu, aku sangat rindu.. Hanya doa yang bisa kuselipkan disetiap sujudku tuk mengobati rindu yang teramat sangat ini. Semoga Ibu diberikan tempat terindah disisi-Nya..
Salam cinta dari anak bungsumu..
Tangerang, 31 Oktober 2016



0 komentar:
Posting Komentar