Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada
peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah
penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala
rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia
habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari
rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia
terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku
pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu
sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia
benar-benar patah.
Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak
berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku
mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi
nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi
dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu menyeleksi
pemilik kuncinya. Cinta masih mengental, tapi luka pun terasa mengekal.
Aku hanya tak ingin salah langkah. Karena pernah, cinta membuatku begitu
patah. Untuk sembuh, perlu waktu yang sangat lama. Aku butuh merangkak
seorang diri, meminum pil kenyataan yang begitu pahit dan menyadarkan
bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menerima.
Memang, tadinya aku tak ingin terburu-buru mendefinisikanmu sebagai
calon penghuni hati. Karena ada ruangan yang pernah diobrak-abrik oleh
beberapa objek masa laluku, kini perlu dirapihkan terlebih dahulu.
Terlalu jahat jika ruangan tempatmu menghuni nanti masih dipenuhi
sisa-sisa luka. Penyambutan yang baik adalah sebenar-benarnya mencintai
dengan tanpa membawa masa lalu ikut serta. Memang, ingatan tentang
beberapa peristiwa patahnya hati takkan pernah bisa terusir pergi. Tapi
setidaknya aku perlu memastikan bahwa sekalipun bahagia mulai mengudara,
ini bukanlah penyangkalan atau pesta sandiwara. Ini bukan perasaan
sisa-sisa masa lalu. Harus ada hati yang benar-benar bahagia, atas maaf
yang sepenuhnya terlaksana.




0 komentar:
Posting Komentar